Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Kamis, 26 Juli 2012

Mutiara Introspeksi Diri


Ma’aasyirol Muslimiin, Rohimaniy wa Rohimakumulloh,

                  Wahai Saudaraku, pernahkah anda berusaha menghitung-hitung kebaikan dan keburukan diri anda? Seperti bersungguh-sungguhnya anda dalam menghitung-hitung rupiah dan dolar, apakah rugi ataukah untung?

                  Wahai Saudaraku, pernahkah pada suatu hari anda berusaha mengasingkan diri serta menyendiri, lalu mengingat-ingat kurangnya ibadah atau buruknya mutu ibadah anda di sisi-Nya?

                  Wahai Saudaraku, pernahkah pada suatu hari anda memikirkan amal ketaatan yang telah sekian lama anda lakukan, bahkan anda bangga-banggakan, ternyata anda dapati mayoritasnya terkotori oleh riya’, tergerogoti oleh sum’ah serta tercemari oleh ambisi-ambisi duniawi?

                  Ketahuilah wahai Saudaraku, waktu terus bergulir, yang berlalu tidak akan pernah kembali, umurpun semakin habis, ajalpun serasa semakin mendekat, tiada daya dan upaya kita yang bisa menolaknya, maka jalan keselamatan adalah menyiapkan diri menghadapinya, membekali diri untuk melalui perjalanan nan panjang, serta terus memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan dan kesalahan, Alloh telah mengingatkan kita melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ- وَ اتَّقُوا اللهَ – إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.(QS. Al-Hasyr : 18)

                    Sebagaimana juga sahabat Umar ibn al-Khoththoob pernah mewejangkan:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَ زِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا، فَإِنَّهُ أَهْوَن ُعَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا، أَنْ تُحَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ الْيَوْمَ، وَ تَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ، (يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ)
Hitung-hitunglah diri (amal) kalian sebelum diri kalian dihitung, timbanglah diri (amal) kalian sebelum diri kalian ditimbang. Perhitungan kalian kelak (di akherat) akan lebih ringan dikarenakan telah kalian perhitungkan diri kalian pada hari ini (di dunia). Berhiaslah (persiapkanlah) diri kalian demi menghadapi hari ditampakkannya amal. Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian), tiada sesuatupun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah). HR. At-Tirmidzi.

                  Bahkan al-Hasan menjadikan introspeksi diri sebagai tanda keimanan seseorang:
لاَ تَلْقَى اْلمُؤْمِنَ إِلاَّ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ : مَاذَا أَرَدْتِ تَعْمَلِيْنَ؟ وَ مَاذَا أَرَدْتِ تَأْكُلِيْنَ؟ وَ مَاذَا أَرَدْتِ تَشْرَبِيْنَ؟ وَ الْفَاجِرُ يَمْضِيْ قَدَمًا قَدَمًا لاَ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ
Tidaklah anda jumpai seorang mukmin, kecuali dalam keadaan menghitung-hitung dirinya: Apa yang ingin engkau lakukan? Apa yang ingin engkau makan? Apa yang ingin engkau minum? Sebaliknya, seorang fajir akan terus berbuat tanpa memperhitungkan dirinya.

                   Sehingga introspeksi diri adalah salah satu tanda keimanan seseorang, dan meninggalkannya merupakan tanda kefasikan seseorang. Lebih dari itu, introspeksi diri akan menggambarkan tingkatan ketakwaan seseorang, sebagaimana uraian Maimun ibn Mahron:
إِنَّ التَّقِيَّ أَشَدَّ مُحَاسَبَةً لِنَفْسِهِ مِنْ سُلْطَانٍ عَاصٍ وَ مِنْ شَرِيْكٍ شَحِيْحٍ
Sesungguhnya seorang yang bertakwa lebih kuat menghitung-hitung dirinya daripada penguasa dholim dan patner dagang yang pelit.

                   Karena penguasa yang dholim akan sangat teliti mengawasi kekurangan yang terjadi dalam kekayaan kerajaannya, bahkan melampaui haknya, demikian juga relasi dan teman bisnis yang pelit akan sangat teliti dalam menghitung keuntungannya, tidak rela sedikit pun keuntungannya dikurangi.

Ma’aasyirol Muslimiin, Rohimaniy wa Rohimakumulloh,
                  Introspeksi diri dilakukan sebelum dan sesudah melakukan amalan. Sebelum beramal, hendaklah seseorang di awal keinginannya untuk melakukan sesuatu, berhenti sejenak dan merenung sampai jelas baginya mana yang lebih baik, dilakukan atau ditinggalkan.
                  Al-Hasan menyatakan:
رَحِمَ اللهُ عَبْدًا وَقَفَ عِنْدَ هَمِّهِ فَإِنْ كَانَ لِلّهِ مَضَى وَ إِنْ كَانَ لِغَيْرِهِ تَأَخَّرَ
Semoga Alloh merahmati seorang hamba yang berhenti ketika ingin melakukan suatu amal. Apabila didapati amalan itu untuk dan karena Alloh, maka amalan tersebut dilakukannya. Apabila didapati amalan itu bukan untuk dan karena Alloh, maka amalan tersebut ditinggalkannya.

                   Ketahuilah, bahwa introspeksi diri setelah beramal ada tiga jenis, antara lain:
1.Introspeksi diri atas ketaatan yang telah dilakukan. Apakah ada kekurangan didalamnya? Apakah sudah dilaksanakan sesuai keinginan-Nya dan tuntunan rosul-Nya?

               Misalnya, apakah sholat yang kita lakukan benar-benar telah sesuai dengan tuntunan Rosululloh? Baik lahir maupun batin? Ataukah sholat kita hanya sebatas lahiriahnya? Jauh dari kekhusyu'an dan justeru yang kita ingat didalamnya adalah perkara dunia? Harta dan perdagangan serta pertanian kita? Sejak takbirotul ihrom sampai salam. Padahal kita diperintahkan melaksanakan dan mendirikan sholat untuk mengingat Alloh!! Bukan mengingat yang lain. Sebagaimana firman-Nya:
وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِيْ
Dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. (QS. Thoohaa : 14)

                   Apabila didalam sholat yang kita ingat hanyalah Alloh, maka sholat kita benar-benar bisa mengarahkan diri kita kepada kebaikan, sebagaimana jaminan Alloh akan perkara tersebut dalam firman-Nya:
إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (QS. Al-Ankabuut: 45)


2.Introspeksi diri atas setiap amalan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan. 

                    Sebagai permisalan adalah kebiasaan sebagian orang yang merayakan  malam tahun baru dengan bergadang semalam suntuk, membuat kegaduhan dengan suara petasan, klakson serta knalpot yang gaduh dari kendaraan bermotor yang mereka kendarai, serta berbagai bentuk gangguan terhadap orang lain, sampai akhirnya tidak bisa melaksanakan sholat subuh di awal waktu, karena tubuhnya begitu letih akibat bergadang semalaman. Dengan perbuatan seperti ini, sang pelaku akan memikul minimal dua jenis dosa, yang pertama adalah dosa mendholimi orang lain berupa gangguan terhadap orang lain, dosa jenis ini tidak akan diampuni oleh Alloh sampai orang yang terdholimi memaafkannya, yang kedua, sang pelaku akan memikul juga dosa kepada Alloh, karena meninggalkan suatu perkara yang telah diwajibkan, yakni sholat subuh berjamaah pada waktunya.

3.Introspeksi diri atas setiap amalan yang mubah dan suatu kebiasaan. Kenapa dilakukan? Apakah demi mencapai kesuksesan akherat? Sehingga beruntunglah yang melakukannya. Ataukah demi kenikmatan sesaat di dunia? Sehingga merugilah dia.
                   Diantara percontohan yang bisa kita ambil adalah makan minum kita, apakah hanya sekedar untuk memuaskan nafsu perut kita, menyombongkan dan memamerkan badan yang besar lagi kekar? Sehingga suatu saat semua itu akan sirna bersamaan dengan melayangnya nyawa kita dan musnahnya dunia ini. Ataukah makan minum tersebut kita lakukan demi menjaga stamina tubuh kita? sehingga bisa beribadah dengan kuat dan khusyu'. Apabila kita pilih yang pertama, niscaya yang kita dapatkan hanyalah secuil kenikmatan dunia yang tidak sebanding sedikitpun dengan kenikmatan akherat. Akan tetapi jika kita memilih yang kedua, maka akan kita dapatkan kenikmatan dunia dan kesempurnaanya di akherat, alias sukses dunia dan akherat.
 
                  Bertahap kita lakukan introspeksi diri atas kewajiban yang telah dianugerahkan Alloh kepada kita, jika ada kekurangan didalamnya segera kita kejar dengan memperbaiki atau membayarnya. Inilah salah satu fungsi sholat-sholat sunnah rowatib yang mengiringi sholat wajib lima waktu, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
                 Selanjutnya adalah introspeksi diri atas larangan-larangan Alloh, jika kita terjerumus kedalamnya, segeralah diiringi dengan taubat, isthighfar serta berbagai amal ketaatan yang bisa menghapuskan dosa tersebut. Rosululloh bersabda:
وَ أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
 Iringilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya akan menghapuskan yang buruk. HR. Abu Dawud, Ahmad dll.
                  Di sisi lain adalah introspeksi diri atas kelalaian kita, jika kita dapati diri ini sering melupakan Alloh, maka segera mengingat dan menyebut nama-Nya dengan berbagai lafadz dzikir yang telah diajarkan Rosululloh. Padahal dzikir kepada-Nya akan menjadikan hidup kita tenteram dan bahagia, tapi kita menyia-nyiakannya. Alloh berfirman:  
الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ – أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Ar-Ra'du : 28)


                   Kemudian tidak kalah pentingnya adalah introspeksi diri atas pendengaran, pengelihatan, tangan dan kaki kita, digunakan untuk apa? Karena siapa? Dan dengan cara apa? Karena Alloh berfirman:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ- إِنَّ السَّمْعَ وَ الْبَصَرَ وَ الْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً  
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isroo' :36)

                    Semoga kita dimudahkan oleh Alloh menjadi hamba-hamba-Nya yang waspada atas setiap niatan amal kita, dan merenungi kekurangan dan dosa di masa lalu demi menyongsong kebahagian di akherat. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


الْحَمْدُ لِلّهِ وَكَفَى وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ اْلمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’aasyirol Muslimiin, Rohimaniy wa Rohimakumulloh,

                 Dengan introspeksi diri paling tidak akan kita dapatkan dua manfaat, yang pertama adalah mengetahui aib diri kita sendiri, sehingga memungkinkan kita untuk sibuk memperbaikinya, dikarenakan rasa malu tiada terhingga, sebagaimana yang digambarkan  oleh Muhammad ibn Waasi' tentang perumpamaan atas dosa-dosa kita:
لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدِرَ أَحَدٌ يَجْلِسُ إِلَيَّ
Seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorang pun sanggup duduk mendekat kepadaku.

                  Diantara manfaat introspeksi diri yang lain adalah mengenal hak Alloh. Barangsiapa tidak mengenal Alloh, maka ibadahnya tidak bermanfaat baginya, kalaupun bermanfaat, maka sangat sedikit. Ketika seorang merenungi anugerah dan kenikmatan yang diberikan oleh Alloh, kemudian dia dapati anugerah tersebut tiada terhitung dan tidak terbatas, setelah itu menoleh kepada ibadah yang dilakukannya, tentu akan menjadikannya begitu sedih dan menyesal, karena ternyata semua ibadahnya tidak sebanding sedikitpun dengan nikmat yang diberikan oleh-Nya. Dengan begitu dia akan yakin bahwa dia tidak pantas untuk menyombongkan ibadahnya, bahkan yang pantas adalah bersedih atas dosa-dosanya yang sedemikian banyak, sehingga tiada jalan keselamatan kecuali mengharapkan ampunan dan rahmat-Nya, dari sini akan bangkit semangat seseorang untuk senantiasa menaati Alloh bukan memaksiati-Nya, senantiasa mengingat-Nya bukan melupakan-Nya, selalu bersyukur kepada-Nya bukan mengkufuri-Nya.

                      Akan tetapi mayoritas manusia adalah sibuk menuntut haknya dan lupa menunaikan hak Alloh, sehingga apabila dikurangi kenikmatannya akan cepat berputus asa dan mengkufuri nikmat yang telah diberikan kepadanya.

                    Semoga kita dimudahkan menjadi hamba-hamba Alloh yang pandai mengintrospeksi diri dan sibuk mencari aib sendiri, sehingga akan semakin sibuk untuk bertaubat dan istighfar kepada-Nya serta terus berusaha memperbaiki ibadahnya yang banyak kekurangan didalamnya. Amiin.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَ عَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَ بَارَكَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَ عَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ . اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ اْلمَهْمُوْمِيْنَ ، وَنَفِّسْ كُرَبَ اْلمَكْرُوْبِيْنَ ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ اْلمَدِيْنِيْنَ ، وَاشْفِ مَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ.. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا التَّوَاضُعَ.. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكِبْرِ.. اللَّهُمَّ كَرِّهْ إِلَيْنَا الْكِبْرَ.. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ : { إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ } فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ،وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ { وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ }




Imam Wahyudi Lc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar