Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Kamis, 26 Juli 2012

Mutiara Introspeksi Diri


Ma’aasyirol Muslimiin, Rohimaniy wa Rohimakumulloh,

                  Wahai Saudaraku, pernahkah anda berusaha menghitung-hitung kebaikan dan keburukan diri anda? Seperti bersungguh-sungguhnya anda dalam menghitung-hitung rupiah dan dolar, apakah rugi ataukah untung?

                  Wahai Saudaraku, pernahkah pada suatu hari anda berusaha mengasingkan diri serta menyendiri, lalu mengingat-ingat kurangnya ibadah atau buruknya mutu ibadah anda di sisi-Nya?

                  Wahai Saudaraku, pernahkah pada suatu hari anda memikirkan amal ketaatan yang telah sekian lama anda lakukan, bahkan anda bangga-banggakan, ternyata anda dapati mayoritasnya terkotori oleh riya’, tergerogoti oleh sum’ah serta tercemari oleh ambisi-ambisi duniawi?

                  Ketahuilah wahai Saudaraku, waktu terus bergulir, yang berlalu tidak akan pernah kembali, umurpun semakin habis, ajalpun serasa semakin mendekat, tiada daya dan upaya kita yang bisa menolaknya, maka jalan keselamatan adalah menyiapkan diri menghadapinya, membekali diri untuk melalui perjalanan nan panjang, serta terus memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan dan kesalahan, Alloh telah mengingatkan kita melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ- وَ اتَّقُوا اللهَ – إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.(QS. Al-Hasyr : 18)

                    Sebagaimana juga sahabat Umar ibn al-Khoththoob pernah mewejangkan:
حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَ زِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا، فَإِنَّهُ أَهْوَن ُعَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا، أَنْ تُحَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ الْيَوْمَ، وَ تَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ، (يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ)
Hitung-hitunglah diri (amal) kalian sebelum diri kalian dihitung, timbanglah diri (amal) kalian sebelum diri kalian ditimbang. Perhitungan kalian kelak (di akherat) akan lebih ringan dikarenakan telah kalian perhitungkan diri kalian pada hari ini (di dunia). Berhiaslah (persiapkanlah) diri kalian demi menghadapi hari ditampakkannya amal. Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian), tiada sesuatupun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi Allah). HR. At-Tirmidzi.

                  Bahkan al-Hasan menjadikan introspeksi diri sebagai tanda keimanan seseorang:
لاَ تَلْقَى اْلمُؤْمِنَ إِلاَّ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ : مَاذَا أَرَدْتِ تَعْمَلِيْنَ؟ وَ مَاذَا أَرَدْتِ تَأْكُلِيْنَ؟ وَ مَاذَا أَرَدْتِ تَشْرَبِيْنَ؟ وَ الْفَاجِرُ يَمْضِيْ قَدَمًا قَدَمًا لاَ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ
Tidaklah anda jumpai seorang mukmin, kecuali dalam keadaan menghitung-hitung dirinya: Apa yang ingin engkau lakukan? Apa yang ingin engkau makan? Apa yang ingin engkau minum? Sebaliknya, seorang fajir akan terus berbuat tanpa memperhitungkan dirinya.

                   Sehingga introspeksi diri adalah salah satu tanda keimanan seseorang, dan meninggalkannya merupakan tanda kefasikan seseorang. Lebih dari itu, introspeksi diri akan menggambarkan tingkatan ketakwaan seseorang, sebagaimana uraian Maimun ibn Mahron:
إِنَّ التَّقِيَّ أَشَدَّ مُحَاسَبَةً لِنَفْسِهِ مِنْ سُلْطَانٍ عَاصٍ وَ مِنْ شَرِيْكٍ شَحِيْحٍ
Sesungguhnya seorang yang bertakwa lebih kuat menghitung-hitung dirinya daripada penguasa dholim dan patner dagang yang pelit.

                   Karena penguasa yang dholim akan sangat teliti mengawasi kekurangan yang terjadi dalam kekayaan kerajaannya, bahkan melampaui haknya, demikian juga relasi dan teman bisnis yang pelit akan sangat teliti dalam menghitung keuntungannya, tidak rela sedikit pun keuntungannya dikurangi.

Ma’aasyirol Muslimiin, Rohimaniy wa Rohimakumulloh,
                  Introspeksi diri dilakukan sebelum dan sesudah melakukan amalan. Sebelum beramal, hendaklah seseorang di awal keinginannya untuk melakukan sesuatu, berhenti sejenak dan merenung sampai jelas baginya mana yang lebih baik, dilakukan atau ditinggalkan.
                  Al-Hasan menyatakan:
رَحِمَ اللهُ عَبْدًا وَقَفَ عِنْدَ هَمِّهِ فَإِنْ كَانَ لِلّهِ مَضَى وَ إِنْ كَانَ لِغَيْرِهِ تَأَخَّرَ
Semoga Alloh merahmati seorang hamba yang berhenti ketika ingin melakukan suatu amal. Apabila didapati amalan itu untuk dan karena Alloh, maka amalan tersebut dilakukannya. Apabila didapati amalan itu bukan untuk dan karena Alloh, maka amalan tersebut ditinggalkannya.

                   Ketahuilah, bahwa introspeksi diri setelah beramal ada tiga jenis, antara lain:
1.Introspeksi diri atas ketaatan yang telah dilakukan. Apakah ada kekurangan didalamnya? Apakah sudah dilaksanakan sesuai keinginan-Nya dan tuntunan rosul-Nya?

               Misalnya, apakah sholat yang kita lakukan benar-benar telah sesuai dengan tuntunan Rosululloh? Baik lahir maupun batin? Ataukah sholat kita hanya sebatas lahiriahnya? Jauh dari kekhusyu'an dan justeru yang kita ingat didalamnya adalah perkara dunia? Harta dan perdagangan serta pertanian kita? Sejak takbirotul ihrom sampai salam. Padahal kita diperintahkan melaksanakan dan mendirikan sholat untuk mengingat Alloh!! Bukan mengingat yang lain. Sebagaimana firman-Nya:
وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِيْ
Dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. (QS. Thoohaa : 14)

                   Apabila didalam sholat yang kita ingat hanyalah Alloh, maka sholat kita benar-benar bisa mengarahkan diri kita kepada kebaikan, sebagaimana jaminan Alloh akan perkara tersebut dalam firman-Nya:
إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (QS. Al-Ankabuut: 45)


2.Introspeksi diri atas setiap amalan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan. 

                    Sebagai permisalan adalah kebiasaan sebagian orang yang merayakan  malam tahun baru dengan bergadang semalam suntuk, membuat kegaduhan dengan suara petasan, klakson serta knalpot yang gaduh dari kendaraan bermotor yang mereka kendarai, serta berbagai bentuk gangguan terhadap orang lain, sampai akhirnya tidak bisa melaksanakan sholat subuh di awal waktu, karena tubuhnya begitu letih akibat bergadang semalaman. Dengan perbuatan seperti ini, sang pelaku akan memikul minimal dua jenis dosa, yang pertama adalah dosa mendholimi orang lain berupa gangguan terhadap orang lain, dosa jenis ini tidak akan diampuni oleh Alloh sampai orang yang terdholimi memaafkannya, yang kedua, sang pelaku akan memikul juga dosa kepada Alloh, karena meninggalkan suatu perkara yang telah diwajibkan, yakni sholat subuh berjamaah pada waktunya.

3.Introspeksi diri atas setiap amalan yang mubah dan suatu kebiasaan. Kenapa dilakukan? Apakah demi mencapai kesuksesan akherat? Sehingga beruntunglah yang melakukannya. Ataukah demi kenikmatan sesaat di dunia? Sehingga merugilah dia.
                   Diantara percontohan yang bisa kita ambil adalah makan minum kita, apakah hanya sekedar untuk memuaskan nafsu perut kita, menyombongkan dan memamerkan badan yang besar lagi kekar? Sehingga suatu saat semua itu akan sirna bersamaan dengan melayangnya nyawa kita dan musnahnya dunia ini. Ataukah makan minum tersebut kita lakukan demi menjaga stamina tubuh kita? sehingga bisa beribadah dengan kuat dan khusyu'. Apabila kita pilih yang pertama, niscaya yang kita dapatkan hanyalah secuil kenikmatan dunia yang tidak sebanding sedikitpun dengan kenikmatan akherat. Akan tetapi jika kita memilih yang kedua, maka akan kita dapatkan kenikmatan dunia dan kesempurnaanya di akherat, alias sukses dunia dan akherat.
 
                  Bertahap kita lakukan introspeksi diri atas kewajiban yang telah dianugerahkan Alloh kepada kita, jika ada kekurangan didalamnya segera kita kejar dengan memperbaiki atau membayarnya. Inilah salah satu fungsi sholat-sholat sunnah rowatib yang mengiringi sholat wajib lima waktu, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.
                 Selanjutnya adalah introspeksi diri atas larangan-larangan Alloh, jika kita terjerumus kedalamnya, segeralah diiringi dengan taubat, isthighfar serta berbagai amal ketaatan yang bisa menghapuskan dosa tersebut. Rosululloh bersabda:
وَ أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
 Iringilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya akan menghapuskan yang buruk. HR. Abu Dawud, Ahmad dll.
                  Di sisi lain adalah introspeksi diri atas kelalaian kita, jika kita dapati diri ini sering melupakan Alloh, maka segera mengingat dan menyebut nama-Nya dengan berbagai lafadz dzikir yang telah diajarkan Rosululloh. Padahal dzikir kepada-Nya akan menjadikan hidup kita tenteram dan bahagia, tapi kita menyia-nyiakannya. Alloh berfirman:  
الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ – أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Ar-Ra'du : 28)


                   Kemudian tidak kalah pentingnya adalah introspeksi diri atas pendengaran, pengelihatan, tangan dan kaki kita, digunakan untuk apa? Karena siapa? Dan dengan cara apa? Karena Alloh berfirman:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ- إِنَّ السَّمْعَ وَ الْبَصَرَ وَ الْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً  
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isroo' :36)

                    Semoga kita dimudahkan oleh Alloh menjadi hamba-hamba-Nya yang waspada atas setiap niatan amal kita, dan merenungi kekurangan dan dosa di masa lalu demi menyongsong kebahagian di akherat. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


الْحَمْدُ لِلّهِ وَكَفَى وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ اْلمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’aasyirol Muslimiin, Rohimaniy wa Rohimakumulloh,

                 Dengan introspeksi diri paling tidak akan kita dapatkan dua manfaat, yang pertama adalah mengetahui aib diri kita sendiri, sehingga memungkinkan kita untuk sibuk memperbaikinya, dikarenakan rasa malu tiada terhingga, sebagaimana yang digambarkan  oleh Muhammad ibn Waasi' tentang perumpamaan atas dosa-dosa kita:
لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدِرَ أَحَدٌ يَجْلِسُ إِلَيَّ
Seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorang pun sanggup duduk mendekat kepadaku.

                  Diantara manfaat introspeksi diri yang lain adalah mengenal hak Alloh. Barangsiapa tidak mengenal Alloh, maka ibadahnya tidak bermanfaat baginya, kalaupun bermanfaat, maka sangat sedikit. Ketika seorang merenungi anugerah dan kenikmatan yang diberikan oleh Alloh, kemudian dia dapati anugerah tersebut tiada terhitung dan tidak terbatas, setelah itu menoleh kepada ibadah yang dilakukannya, tentu akan menjadikannya begitu sedih dan menyesal, karena ternyata semua ibadahnya tidak sebanding sedikitpun dengan nikmat yang diberikan oleh-Nya. Dengan begitu dia akan yakin bahwa dia tidak pantas untuk menyombongkan ibadahnya, bahkan yang pantas adalah bersedih atas dosa-dosanya yang sedemikian banyak, sehingga tiada jalan keselamatan kecuali mengharapkan ampunan dan rahmat-Nya, dari sini akan bangkit semangat seseorang untuk senantiasa menaati Alloh bukan memaksiati-Nya, senantiasa mengingat-Nya bukan melupakan-Nya, selalu bersyukur kepada-Nya bukan mengkufuri-Nya.

                      Akan tetapi mayoritas manusia adalah sibuk menuntut haknya dan lupa menunaikan hak Alloh, sehingga apabila dikurangi kenikmatannya akan cepat berputus asa dan mengkufuri nikmat yang telah diberikan kepadanya.

                    Semoga kita dimudahkan menjadi hamba-hamba Alloh yang pandai mengintrospeksi diri dan sibuk mencari aib sendiri, sehingga akan semakin sibuk untuk bertaubat dan istighfar kepada-Nya serta terus berusaha memperbaiki ibadahnya yang banyak kekurangan didalamnya. Amiin.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَ عَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَ بَارَكَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَ عَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ . اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ اْلمَهْمُوْمِيْنَ ، وَنَفِّسْ كُرَبَ اْلمَكْرُوْبِيْنَ ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ اْلمَدِيْنِيْنَ ، وَاشْفِ مَرْضَى الْمُسْلِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ.. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا التَّوَاضُعَ.. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكِبْرِ.. اللَّهُمَّ كَرِّهْ إِلَيْنَا الْكِبْرَ.. اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ : { إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ } فَاذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ،وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ { وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ }




Imam Wahyudi Lc

Minggu, 22 Juli 2012

Hakikat Hidup Hina & Mulia


 
TAFSIR SURAT AL-FAJR
 Ayat : 15-16

Disarikan secara bebas dari berbagai kitab tafsir al-Qur'an dengan sedikit tambahan

Alloh berfirman:

15.Adapun manusia apabila ِAlloh mengujinya lalu Dia memuliakan dan memberikan kesenangan kepadanya, maka manusia tersebut akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku".
16.Adapun bila Alloh mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku".

Ringkasan Tafsir
                        Dalam ayat yang mulia ini Alloh mengungkap jatidiri mayoritas manusia, yang sering salah sangka terhadap Alloh dan pemberian-Nya, dikarenakan ketidaktahuan mereka akan hikmah kebijakan Zat Yang Maha Mengetahui. Mayoritas manusia ketika dilapangkan rizkinya dan dituangkan kepadanya berbagai curahan anugerah dan kenikmatan, baik berupa harta yang melimpah, kesehatan yang sempurna selama bertahun-tahun dan anak keturunan yang banyak, mereka menyangka bahwa dirinya ketika itu sedang dimuliakan Alloh, bahkan sebagiannya melupakan Alloh dan mengklaim bahwa semua itu merupakan hasil dari jerihpayahnya dalam membanting tulang dan memeras keringat, sebagaimana ungkapan kesombongan Qorun yang diabadikan Alloh dalam firman-Nya:

Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Al-Qoshosh (28) : 78

                          Merekapun terjerembab dalam jurang ujub dan bangga diri serta lembah kekufuran terhadap nikmat pemberian Alloh yang pada akhirnya tersesat dalam selendang kesombongan yang panas, sebagaimana Alloh berfirman mengingatkan perkara ini dalam sebuah hadits Qudsi:

إن العز إزاري و الكبرياء ردائي فمن نازعني فيهما عذبته

Sesungguhnya kemuliaan adalah sarung-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku, barangsiapa yang merebutnya, niscaya akan Ku-siksa. Shohih al-Jami' (1908)
 
                        Sebaliknya, ketika ditimpakan kepadanya kesempitan rizki, berkurangnya harta dan kekayaan serta menurunnya kesehatan, maka muncullah perasangka buruk terhadap Alloh, bahwa Dia sedang menjadikannya hina, sehingga bagi mereka kemuliaan hidup ini diukur dari kekayaan yang melimpah, sawah ladang nan luas, hewan ternak yang beranak pinak, anak keturunan yang banyak, serta tubuh yang sehat. Adapun tolok ukur hidup yang hina bagi mereka adalah kemiskinan, sedikitnya harta, kekayaan dan keturunan, serta menurunnya kesehatan. Hal ini senada dengan firman Alloh: 
  
19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
21. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
Al-Ma'aarij (70) : 19-20

                        Anggapan dan praduga ini diluruskan oleh Alloh seraya menyatakan:
Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Al-Anbiyaa' (21): 35

                       Sebagaimana juga penafsiran Ibnu Abbas tentang ayat diatas seraya menyatakan, bahwa maknanya adalah
لم أبتله بالغنى لكرامته علي ولم أبتله بالفقر لهوانه علي بل ذلك لمحض القضاء والقدر
Tidaklah Aku mengujinya dengan kekayaan karena kemuliaan dan haknya di sisi-Ku, dan tidaklah Aku mengujinya dengan kemiskinan karena kehinaannya di sisi-Ku. Akan tetapi hal itu murni karena ketentuan dan takdir-Ku.

                        Maka dari itu, hakekat kekayaan dan kemiskinan, kebahagiaan dan kesengsaraan, kesehatan dan penderitaan bukanlah tanda kemuliaan atau kehinaan seseorang di sisi Alloh, akan tetapi murni ketentuan dan kebijakan-Nya agar terbukti kapasitas, mutu dan kwalitas diri seseorang, apakah termasuk yang pandai bersyukur ketika memperoleh nikmat, atau malah menjadi seorang yang kufur dan menyombongkan diri akan nikmat tersebut? Dan apakah dia termasuk seorang yang bisa bersabar atas musibah dan penderitaan, atau malah murka dan mencaci maki Alloh atas petaka yang menimpanya?

Permisalan Manusia Dalam Menyikapi Kenikmatan
                        Perjalanan sejarahpun membuktikan dan memberikan perbandingan yang gamblang antara dua model manusia dalam menyikapi kenikmatan yang dianugerahkan kepadanya, sebagaimana Nabi Sulaiman yang dianugerahi Alloh kerajaan yang besar, kekuasaan yang luas, bahkan tidak hanya diberi kekuasaan atas manusia saja, akan tetapi juga diberikan kekuasaan atas bangsa jin, binatang bahkan angin. Akan tetapi semua itu tidak menjadikan beliau lupa daratan dan menyombongkan diri, bahkan tetap beriman dan taat kepada-Nya, sehingga kenikmatan tersebut akan dilanggengkan dan disempurnakan didalam surga-Nya kelak.
                        Kebalikannya adalah Fir'aun di zaman Nabi Musa yang juga dianugerahi Alloh kerajaan yang besar, kekuasaan yang luas dan pasukan yang kuat, ternyata mengantarkannya menjadi seorang yang lalai dan kufur, bahkan menyombongkan dan memproklamirkan dirinya menjadi Tuhan yang paling tinggi, akhirnya Alloh pun membinasakan dan menyiksanya di dunia, sebelum disempurnakan di akherat.

Permisalan Manusia Dalam Menyikapi Musibah
                        Dalam menyikapi musibah, diantara suri tauladan kita adalah Nabi Ayyub, beliau pernah mengenyam kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, harta, sawah ladang demikian juga hewan ternak nan melimpah, anak-anak yang banyak, tapi kemudian Alloh uji beliau dengan diambilnya titipan-titipan kenikmatan itu satu persatu. Semua itu beliau hadapi dengan penuh ketabahan dan kesabaran, serta tetap taat kepada-Nya, sehingga setelah itu berangsur-angsur Alloh kembalikan lagi kepada beliau kenikmatan-kenikmatan tersebut.

                        Kebalikannya adalah kisah tiga orang dari bani Israil. Pertama adalah seorang yang sakit kulit pada sekujur tubuhnya. Kedua adalah seorang yang botak tidak ada rambut di kepalanya. Ketiga adalah seorang yang buta sama sekali tidak bisa melihat. Kemudian Alloh sembuhkan mereka semua dari segenap penderitaan tersebut dengan mengirim malaikat yang menjelma menjadi seorang manusia, bahkan diberikan kelebihan kenikmatan yang lain, berupa hewan ternak yang beranak pinak. 

                        Seiring berlalunya waktu dan bergantinya zaman, Alloh pun mengutus kembali salah seorang malaikat-Nya mendatangi ketiga orang tadi dalam wujud yang sama ketika mereka masih sakit dan meminta bantuan untuk memenuhi kebutuhannya. Ternyata orang yang dulunya sakit kulit pada sekujur tubuhnya dan orang yang dulunya botak tidak ada rambut di kepalanya menolak mentah-mentah permohonan malaikat tersebut, bahkan membanggakan apa yang mereka miliki sebagai hasil murni dari jerihpayah mereka, sehingga malaikatpun mengembalikan wujud mereka seperti semula dalam keadaan berpenyakit, dengan seizin Alloh.

                         Adapun orang yang dulunya buta, menyikapi permohonan malaikat dengan senang hati dan mempersilahkan untuk mengambil hartanya sesuai dengan kebutuhan sang pemohon, sehingga malaikat pun mengatakan:

أمسك مالك؛ فإنما ابتليتم، فقد رضي [الله] عنك، وسخط على صاحبيك

Ambillah hartamu, karena sebenarnya kalian telah diuji, sungguh Alloh telah meridhoimu, dan murka terhadap kedua temanmu.
HR. Muslim, Ibnu Hibban dan al-Baihaqiy serta dishohihkan al-Albani dalam ash-shohihah (3523)       

Kesimpulan
                        Kekayaan dan kemiskinan, kegembiraan dan kesedihan, kesehatan dan penderitaan bukanlah standar seseorang itu mulia atau hina, karena semuanya adalah ujian pembuktian kwalitas pribadi seseorang. Apabila seorang yang kaya dan sehat mampu bersyukur atas nikmat tersebut, sehingga memanfaatkannya di jalan Alloh dan dalam rangka taat kepadaNya, bahkan lebih kongkritnya dipergunakan untuk menolong dan memperjuangkan agama Alloh, niscaya akan dibalas oleh-Nya dengan kemuliaan yang jauh lebih tinggi nan abadi, kelak di akherat di dalam surga-Nya.

                        Ketika seorang diuji dengan kemiskinan, kesengsaraan serta penyakit, dia bisa bersabar demi mengharap pahala dari-Nya, maka akan diganjar dengan ganjaran yang berlipatganda didalam surga-Nya, karena Rosululloh bersabda:
ما من مسلم يشاك شوكة فما فوقها إلا كتبت له بها درجة و محيت عنه بها خطيئة
Tiada seorang muslim pun yang tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali pasti dicatat baginya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan. HR. Muslim

                   Sebaliknya, ketika seseorang yang sedang diuji dengan kekayaan dan  kenikmatan malah menjauhkan dirinya dari Alloh dan durhaka kepada-Nya, maka hidupnya akan betul-betul terhina didunia, terlebih di akherat. Demikian juga seseorang yang sedang diuji dengan kemiskinanan dan  kesengsaraan malah menjauhkan mencaci Alloh dan tidak mau bersabar atas ketentuanNya, maka hidupnya akan betul-betul terhina didunia, terlebih di akherat.

                   Maka dari itu, kemuliaan hidup yang hakiki ada dalam segala ketaatan kepada Alloh yang bakal mengantarkan sang hamba dalam samudra kenikmatan-Nya di dalam surga. Adapun kehinaan hidup yang hakiki ada dalam berbagai jenis kemaksiatan dan pembangkangan terhadap-Nya, sehingga bakal menyeret sang hamba dalam jurang penderitaan tiada tara di dalam nerakanya.

                    Semoga kita semua dibimbing Alloh agar menjadi hamba-hamba-Nya yang senantiasa bisa menaati-Nya, baik dalam keadaan sempit maupun lapang, miskin maupun kaya, sakit maupun sehat, sehingga berhak menikmati kemuliaan hidup yang hakiki di sisi-Nya. Amiin ya Robbal 'aalamiin.

                    Kita pun berlindung kepada-Nya agar tidak dijadikan hamba-hamba-Nya yang senatiasa bermaksiat dalam berbagai keadaan, yang bakal menjerumuskan pelakunya dalam keninaan yang hakiki di sisi-Nya. Na'uudzubillah min Dzalik  

Marooji':
-Tafsir Ath-Thobary
-Tafsir Al-Alusy
-Tafsir Al-Baghowi
-Tafsir Ibnu Katsir
-Tafsir As-Sa'diy
-Tafsir Ibnu 'Utsaimin
-Dll.

Oleh: abu Bilqis

Nahkoda Yang Kehilangan Haluan




الحمد لله الذي خلق الجنة و النار، و خلق لكل واحدة منهما أهلا وأصحابا، وجعل الجنة دار أوليائه، والناردار أعدائه. والصلاة والسلام على خاتم رسله، وأشرف خلقه، الذي جاء إلى الجنة داعيا، و في نعيمها مرغبا، ومن النار وعذابها مخوفا ومحذرا ومرهبا. وأصلي وأسلم على آل الرسول وصحبه وتابعيهم بإحسان، الذين أعدوا للأمر عدته، وأخذوا له أهبته، فأسهروا ليلهم يصلون، ويستغفرون، ويناجون الله، ويرتلون كتابه، وأظمؤوا نهارهم تقربا إلى الله بالصيام، لأنهم علموا أن الأمر جد، ولا نجاة من النار، ولا فوز بالحنة إلا بالتشمير عن ساعد الجد، وبعد:
Ya ma'syarol muslimin, Rohimani wa rohimakumulloh.
                   Bagi seorang muslim, tiada cita-cita yang lebih tinggi nan mulia sepangjang hidupnya, daripada dimasukkan kedalam surga Alloh yang penuh dengan berbagai kenikmatan nan abadi. Akan tetapi ironisnya, terkadang lisan perbuatan kita berbicara lain, dan amal perbuatan kita justeru menggiring kita menuju neraka-Nya, bahkan tercegah memasuki surga-Nya. Maka dari itu, perlu kiranya pada kesempatan yang berbahagia ini, kita pertajam perhatian kita, dan kita asah pengetahuan agama kita, agar bisa lebih waspada dan cermat dalam memilih perbuatan yang hendak kita lakukan. Rosululloh pernah bersabda:
ثلاثة قد حرم الله عليهم الجنة : مدمن الخمر و العاق و الديوث الذي يقر في أهله الخبث
Tiga jenis manusia yang telah Alloh haramkan surga bagi mereka, (yaitu): Pecandu khomer, Orang yang durhaka kepada orangtuanya, dan Ad-Daiyuuts (yakni) kepala rumah tangga yang menyetujui keburukan yang ada dalam keluarganya. HR. Ahmad, dishohihkan al-Albani dalam shohihul jami' (3052).

                     Dalam hadits yang mulia ini, Rosululloh memberitakan bahwa Alloh dengan tegas mengharamkan surga atas tiga golongan manusia, diantaranya adalah Ad-Daiyuuts (yakni) kepala rumah tangga yang menyetujui keburukan yang ada dalam keluarganya, khususnya keburukan yang mengarah kepada perzinaan, semisal pergaulan bebas, mengumbar aurot, percampuran lelaki beserta wanita yang bukan mahramnya dan yang semisalnya. Inilah inti pembahasan kita pada kesempatan yang berbahagia ini. Bahkan sebelum itu di hari kiamat, Alloh tidak berkenan melihat mereka, sebagaimana sabda Nabi-Nya:   
ثلاثة لا ينظر الله إليهم يوم القيامة : العاق لوالديه و المرأة المترجلة المتشبهة بالرجال و الديوث
Tiga jenis manusia yang Alloh (tidak berkenan) melihat mereka, (yaitu): Orang yang durhaka kepada orangtuanya, wanita yang bergaya seperti lelaki dan menyerupainya, serta Ad-Daiyuuts. HR. Ahmad, an-Nasaa'I dan al-Hakim, serta dishohihkan al-Albani dalam shohihul jami' (3071).

Ya ma'syarol muslimin, Rohimani wa rohimakumulloh.
                        Betapa, dalam dua hadits yang mulia tadi, tampak jelas bahwa seorang kepala rumah tangga beresiko besar terhalang memasuki surga-Nya bahkan di saat yang begitu mencekam, pada hari kiamat tidak dihiraukan Robb-nya. Hal ini berakar pada prinsip yang disampaikan Rosululloh:    
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
Setiap yang terlahir, dilahirkan dalam keadaan fithroh, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya seorang yahudi, nasrani atau majusi. HR. al-Bukhori dan Muslim
                          Begitulah kedua orangtua, terutama kepala rumah tangga sangat berperan dalam membentuk kepribadian anak, baik dalam hal aqidah, ibadah maupun akhlaq. Dengan demikian termasuk kesalahan besar seorang kepala rumah tangga, apabila membiarkan istri dan anak perempuannya mengumbar aurot di jalan-jalan, baik membiarkan mereka tidak mengenakan jilbab, atau berjilbab tapi busananya sempit dan ketat membentuk lekukan tubuh, menjadikan kaum lelaki terpesona dan tergoda, serta membumbungkan angan-angan, atau berbusana longgar tapi sangat tipis, sehingga terlihat warna kulitnya dan apa yang ada dibalik busananya, sehingga tetap menimbulkan fitnah bagi kaum lelaki, na'uudzubillah min dzalik. Padahal Rosululloh memberitakan:
صنفان من أهل النار لم أرهما بعد : ... و نساء كاسيات عاريات مميلات مائلات رءوسهن كأسنمة البخت المائلة لا يدخلن الجنة و لا يجدن ريحها و إن ريحها ليوجد من مسيرة كذا و كذا
Dua jenis manusia yang termasuk penduduk neraka dan belum pernah kulihat, (diantaranya) : …., dan kaum wanita berbusana, akan tetapi telanjang, berjalan dengan berlenggak lenggok sambil memiringkan pundaknya serta menambahkan sesuatu pada kepala mereka agar menarik perhatian, (manusia jenis ini) tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya bisa didapati pada jarak sekian dan sekian. HR. Ahmad dan Muslim.
                   Apakah para kepala rumah tangga kaum muslimin merasa rela, bahwa istri tercinta mereka, anak-anak perempuan tersayang mereka, menjadi penghuni neraka, terpisah darinya, bahkan bau surga pun tidak bisa mereka cium??
                    Apakah beruntung?? Ketika seorang kepala rumah tangga yang menyia-nyiakan ladang amal terdekatnya, bahkan sebaliknya terkadang lebih parah, kepala rumah tangga menganjurkan keluarga untuk membuka aurot dan bersolek didepan para lelaki yang bukan mahramnya, layaknya para pezina yang menjajakan barang dagangannya. na'uudzubillah min dzalik.
                           Apakah mereka tidak pernah mendengar sabda Nabi mereka yang mulia:                   
من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا و من دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا
Barangsiapa yang mengajak untuk mengikuti petunjuk Alloh, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi jatah pahala pengikutnya sedikitpun. Dan Barangsiapa yang mengajak untuk mengikuti kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi jatah dosa pengikutnya sedikitpun. HR. Ahmad, serta dishohihkan al-Albani dalam shohihul jami' (6234).
                      Setiap kebaikan yang kita ajarkan, termasuk kepada anak kita, maka pahalanya akan berlipatganda sebanding dengan jumlah orang yang mengikuti ajaran kebaikan tersebut, serta sebalik, setiap keburukan yang kita ajarkan, maka dosanya akan berlipatganda sebanding dengan jumlah orang yang mengikuti ajaran keburukan tersebut. Maka, manakah yang kita pilih? Bergegas mengajarkan kebaikan, ataukah   justeru tanpa sadar menyesatkan anak-anak kita? Anak-anak kitalah yang bakal menjadi tumpuan harapan kita setelah kita dipanggil oleh-Nya, sebgaimana penjelasan Nabi kita:
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له
Apabila anak Adam wafat maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga perkara:  sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak sholeh yang mendoakannya. HR. Muslim dan Abu Daud
                  Tanpa pembinaan yang baik, maka seorang anak tidak akan menjadi sholeh, siapa menanam dialah yang bakal memanen. Sungguh merugi orang tua atau kepala rumah tangga yang mneyia-nyiakan keturunannya tanpa arahan dan bimbingan, sehingga jauh menyimpang dari ajaran Islam, tidak mengenal cara berbakti kepada kedua orang tuanya, sebaliknya lebih dekat dan terbiasa dalam kemaksiatan dan menambah dosa, bahkan menjadi aib kedua orang tuanya baik tatkala hidup maupun setelah meninggal dunia keduanya.
                    Semoga kita dijadikan termasuk golongan orang tua yang gemar membimbing anak-anak kita, terutama anak perempuan kita, sehingga bisa menikmati keindahan hasilnya di hari tua, bahkan sepeninggal kita. Amin.
أقول قولي هذا، فأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنه سميع قريب مجيب الدعوات

KHUTBAH KEDUA
الحمد لله حمدا كثيرا مباركا فيه، والصلاة والسلام على سيد الأنبياء و رسله، وأقرب عباده، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:
Ya ma'syarol muslimin, Rohimani wa rohimakumulloh.
                                Wahai segenap orang tua, terutama kepala rumah tangga! Diantara perkara yang paling berpengaruh terhadap anak kita diluar lingkungan keluarga, adalah teman, maka perhatikanlah siapakah teman anak kita, sebagaimana telah Rosululloh peringatkan dalam sabdanya:
إنما مثل الجليس الصالح و جليس السوء كحامل المسك و نافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك و إما أن تبتاع منه و إما أن تجد منه ريحا طيبة و نافخ الكير إما أن يحرق ثيابك و إما أن تجد ريحا خبيثة
Sungguh permisalan teman duduk yang baik dan yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun (jika berteman duduk dengan-pen.) penjual minyak wangi, maka mungkin kamu diberi minyak wangi, atau kamu membeli darinya, atau (minimal-pen.) kamu mencium bau wanginya.  Adapun (jika berteman duduk dengan-pen.) tukang pandai besi, bisa jadi bajumu terbakar atau kamu mencium bau yang tidak sedap darinya. HR. Al-Baihaqi, serta dishohihkan al-Albani dalam shohihul jami' (2367).
                   Betapa banyak anak-anak yang terlahir di lingkungan keluarga baik-baik,  terbiasa dengan berbagai perangai yang baik, terdidik untuk taat terhadap agama Islam dan menujunjung nilai-nilai moral yang terkandung didalamnya, akan tetapi berubah seratus delapan puluh derajat, setelah mengenal dunia luar dan salah memilih teman. Maka pembinaan anak dimulai dari lingkungan keluarga dan terus kita pantau perkembangannya di lingkungan luar, supaya benar-benar bisa kita panen hasilnya di hari tua dan berlanjut sampai setelah kita dipanggil oleh-Nya.
                   Wahai segenap orang tua, terutama kepala rumah tangga! Maka dari itu, jangan pernah cuek dan diam terhadap kemungkaran didalam rumah anda, jangan pernah berputus asa dalam memimpin anggota keluar, dan sekali lagi jangan lupa berdoa kebaikan untuk mereka, karena doa merupakan senjata ampuh seorang yang beriman.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد وبارك على محمد وعلى آل محمد كما صليت وباركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد
ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين   
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب
ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
Imam Wahyudi Lc